Kamis, 21 Juli 2011

Candi Mendut

Inspirasi MENDUT 1:  TABUR TUAI

Candi Mendut didirikan oleh dinasti Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha, hal ini ditunjukkan dengan adanyA stupa sebanyak 48 pada bagian atasnya. Arkeolog Belanda menyebutkan bahwa didalam prasasti yang ditemukan didesa Karangtengah bertarikh 824M dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava yang artinya adalah hutan bambu.
Relief-relief yang terdapat pada dinding candi ini masih jelas terlihat bentuk/ukirannya.  RELIEF 1: bercerita tentang "Brahmana dan Kepeting":
Maka adalah seorang brahmana yang bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan. Berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada.

“Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai, lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana.

Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mau mangsanya.” Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “ Kita mangsa bersama-sama”

Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana.  Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.”

Ujar kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, laksanakanlah dengan segera.”  Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan si ular.

INSPIRASI: TABUR TUAI
Kemuliaan seseorang, bukan apa yang ia miliki, tetapi apa yang ia lakukan. Para bramana, pada nabi, dan tokoh-tokoh panutan, diteladani, bukan karena apa yang ia miliki, tetapi lebih pada apa yang ia lakukan.  Yang kita lakukan, itu semacam BENIH yang kita tabur dalam ladang SISTEM KEHIDUPAN.
Kisah ini menceritakan, bahwa budi (perbuatan baik) tidak pernah kembali dengan sia-sia. Bagaimanapun di dalam ladang SISTEM KEHIDUPAN ini berlaku Hukum TABUR TUAI. Setiap agama mengajarkan prinsip hukum ini, dengan nama hukum dan kalimat ayat yang berbeda-beda, namun substansinya sama. Karena itu berbicara MORAL, ETIKA, KARAKTER, (terlepas dari IMAN), kita bisa belajar dari berbagai kisah INSPIRATIF.... apapun latar belakang agamanya. Dan dari Candi MENDUT... kita belajar... HUKUM TABUR TUAI... jadi mari banyak-banyak menabur KEBAIKAN... karena kita pasti MENUAI !! Salam dahsyat Luar Biasa !
Inspirasi MENDUT 2: JANGAN EMOSI
Pada bagian dalam candi Mendut, ini terdapat ruangan yang berisikan altar tempat tiga arca Budha berdiri. Ketiga arca tersebut mulai dari yang paling kiri adalah Bodhisattva Vajravani, Buddha Sakyamuni dan Bodhisattva Avalokitesvara.
Hiasan pada candi Mendut: Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda. Relief pada candi Mendut ini, mengandung cerita berupa ajaran moral dengan menggunakan tokoh-tokoh binatang (fabel) sebagai pemerannya.
RELIEF 2: Cerita tentang "Angsa dan Kura-kura"
Danau Kumudawati asal airnya dari telaga Manasasara. Hidup bersama Cakrangga angsa jantan, si Cakranggi angsa betina, bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi si jantan, sedangkan si Kacapa si betina.  Maka tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin mengering.
Berkatalah Angsa kepda Kura2: “Kami ingin terbang mengungsi ke danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Airnya bersih, bening dan tidak mengering di musim kemarau sekalipun”. Maka si kura-kurapun menjawab: “Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda. Ke mana pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian.’
Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, gigittlah olehmu tengah-tengahnya, kami akan menggigit ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, janganlah kendor anda menggigitt, dan lagi JANGAN BERBICARA !!!.”
Merekapun berangkat dan telah sampai di atas ladang Wilanggala. Berteriaklah anjing betina: “Hai kura2 jelek !!!”  Kura2 tetap saja diam, ia gigit kencang2 batang kayunya... dalam hati ia bangga punya sabahat angsa yang baik. Anjing jantan berteriak lagi” Itu bukan kura2... mana bisa kura2 terbang... itu Tahi Kerbau kering !!”
Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering.  Maka mengangalah mulut si kura-kura hendak marah, lepas kayu yang digigitnya jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala.
INSPIRASI: JANGAN EMOSI
Angda dan kura2 punya tujuan mencari kehidupan baru. Karena emosi dalam menangapi perkataan atas apa yang mereka lakukan, kura-kura melepaskan gigitannya sehingga jatuh ketanah dan mati. Hati hatilah dengan perkataan. Pantas ada pepatah ; “Hidup Mati tergantung Lidah”
Anda punya visi, tujuan, membangun masa depan? Hati2 dengan komentar orang ! Jangan emosi lalu marah, atau emosi lalu ngambek. Dunia ini penuh pencemooh, orang iri hati, kalimat negatif, nada sinis... Apakah anda akan mengorbankan masa depan anda, hanya karena komentar orang ??? Tidak semua perkataan orang harus anda simak dengan seksama, apalgi dimasukkan hati. Sebaliknya dengar dengan otak dan logika nada, ambil hikmahnya, dan terus SEMANGAT. SEMANGAT DAN SEMANGAT !! Salam Dahsyat Luar Biasa !!
Inspirasi MENDUT 3:  Jangan ikut GILA !!
Letak Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Borobudur yang berada pada satu garis lurus mendasari dugaan bahwa ketiga candi Buddha tersebut mempunyai kaitan yang erat. Kemiripan motif pahatan di ketiga candi tersebut juga mendasari adanya keterkaitan di antara ketiganya. Poerbatjaraka, bahkan berpendapat bahwa candi2 ini merupakan upa angga (bagian dari) Candi  Borobudur.
Saat prosesi upacara Waisak bermula dari Candi Mendut, melewati candi Pawon dan berakhir pada Candi Borobudur.  Candi Mendut, Pawon dan juga Borobudur,  merupakan Candi Budha.
Pada candi Mendut, terdapat relief  lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka.  Relief ke-3: bercerita tentang: "Dua Burung Betet yang Berbeda": Mengisahkan kelakukan dua burung betet yang sangat berbeda karena satunya dibesarkan oleh brahmana (pendeta) dan satunya lagi oleh seorang penyamun.
INSPIRASI dari cerita relief ini LINGKUNGAN ITU PENTING. Lingkungan paling melekat dengan anak-anak kita saat ini adalah media, film, vcd, internet baik lewat warnet, komputer maupun hp.  Media- media ini berinteraksi dengan anak-anak kita jauh lebih intens daripada dengan keluarga, guru bahkan teman. Karena itu mari kita bijaksana dengan memonitor media mereka, dan yang paling utama mengisi hati dan jiwa mereka dengan moral, etika dan ‘pengenalan akan TUHAN’.
Relief ke-4: "Dharmabuddhi dan Dustabuddhi": Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil.   Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh/ MEMFITNAH Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.
INSPIRASI dari cerita relief ini dalam istilah orang Jawa ‘becik ketitik, olo ketoro’. Kita hidup didunia dimana fitnah, penjilat, merupakan barang umum di dunia saat ini. Lihat saja berita korupsi atau kasus mafia hukum, kita jadi binggung karena terjadi saling fitnah, dan kebenaran menjadi abu-abu ada zaman ini.
Tetapi percayalah, bahwa akan ada pengadilan akhir yang adil, paling tidak di dunia yang akan datang, di akhirat setelah kita mati. Ada hukum agama yang mengatakan; “Apa yang tersembunyi akan diberitakan di atap-atap rumah”.  Akan ada saatnya TUHAN sendiri yang akan mengadili manusia dan memberikan kepada setiap orang masing-masing sesuai perbuatannya. 

Jika kita umat beragama dan percaya bahwa TUHAN itu ada, serahkanlah semuanya kepada TUHAN, masih orang Jawa berkata: “Iki zaman edan, nek ra melu edan yo ora kumanan, nih isih luwih bekjo sing eling lan wasposo” artinya “Ini zaman gila, kalau tidak ikut gila tidak kebagian, tetapi lebih beruntung yang ingat dan waspada atau bijaksana”.  Inspirasi dari candi Mendut ... mari tidak ikut-ikutan gila akhirnya sengsara ... tetapi menjadi bijaksana dan hidup bahagia. Salam Dahsyat Luar Biasa !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar