Selasa, 03 April 2012

Nani Wartabone, Gorontalo


 Inspirasi Gorontalo: Wartabone 1: MENJADI ORANG PERTAMA

Saya berada Gorontalo, Sulawesi, satu-satunya wilayah di Indonesia yang memproklamasikan kemerdekaan sebelum 1945, yaitu 23 Januari 1942. Nani Wartabone, (lahir 30 Januari 1907, meninggal 3 Januari 1986), “Pahlawan Nasional Indonesia” 2003, adalah putra Gorontalo dan tokoh perjuangan yang melakukan proklamasi tersebut. Bagi saya Watabone ini tokoh yang unik dan inspiratif yang saya angkat kisah hidupnya menjadi SERIAL LEADERSHIP dari Gorontalo.
Perjuangannya dimulai ketika ia mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo 1923. Ketua Partai Nasional Indonesia Gorontalo 1928. 1941 tentara Sekutu dikalahkan Jepang pada Perang Asia-Pasifik, Belanda merencanakan pembumihangusan Gorontalo  28 Desember 1941 dengan membakar gudang-gudang kopra dan minyak di Pabean dan Talumolo. Memimpin perlawanan rakyat, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo mencoba menghalanginya dengan menangkapi para pejabat Belanda yang masih ada di Gorontalo.
Pada 23 Januari, dini hari dimulai dari kampung-kampung di pinggiran kota Gorontalo seperti Suwawa, Kabila dan Tamalate, Nani Wartabone dan rakyat Gorontalo bergerak mengepung kota. Pukul lima Komandan Detasemen Veld Politie WC Romer dan beberapa kepala jawatan yang ada di Gorontalo menyerah. Jam 10.00 Nani Wartabone memimpin langsung upacara pengibaran bendera Merah Putih yang diiringi lagu “Indonesia Raya” di halaman Kantor Pos Gorontalo dan deklarasi ‘Proklamasi Kemerdekaan’. Bukan sekedar deklarasi, tetapi berhasil membentuk pemerintahan daerah dan lembaga perwakilan rakyat. Luar Biasa !
INSPIRASI: Apa inspirasi dari kisah ini? Berani bertindak, MENJADI YANG PERTAMA ! Mereka yang PERTAMA masuk bisnis jaringan, menjadi kaya raya. Mereka yang PERTAMA bisnis seluler, media, televisi, pertambangan, perminakan, dll  di sebuah negara, mereka menjadi kaya raya. Memang akhirnya ada pengikut yang lebih berhasil lagi, tetapi yang PERTAMA sudah kaya duluan.
Ada banyak pilot di Indonesia, tetapi sejarah mencatat Adi Sutjipto adalah pilot pertama Indonesia. Orang mengingat siapa astronot pertama menginjakkan kaki ke Bulan, siapa presiden pertama dari suatu negara dan seterusnya. Untuk menjadi yang pertama, bukan pengikit, bukan follower, adalah KEBERANIAN !!
Ada banyak pemuda PDKT, pendekatan terhadap seorang gadis, semua mendekati, semua berbuat baik, tetapi…, basanya, siapakah yang diterima oleh si gadis? Yang pertama menyatakan cintanya secara verbal, secara lisan, YANG PERTAMA BERANI berkata; “Saya mencintaimu”.  Kenapa? Karena yang tidak berani mengatakan, membuat si gadis binggung, “Dia itu mau jadi sahabat atau mau jadi pacar?”
Jadi, jika anda mau sukses, anda tidak mau kehilangan peluang, peluang mendapat pacar, peluang usaha, peluang memegang hak usaha di kota anda, anda harus BERANI menjadi YANG PERTAMA! Inilah Inspirasi kepemimpinan dari kisah Watabone, dari Gorontalo. Salam Dahsyat, Luar Biasa!
Inspirasi Gorontalo: Wartabone 2: Pejuang Sejati TAHAN MENDERITA!
Saya berada Gorontalo, Sulawesi, wilayah yang paling awal merdeka dari seluruh wilayah tanah air Indonesia lainnya, yaitu 23 Januari 1942, diproklamasikan oleh Pahlawan Nasional putra Gorontalo, Nani Wartabone.
26 Feb 1942 Jepang mendarat di Gorontalo, dan menuntut warga tunduk pada Jepang. Rakyat yang berpihak kepada Wartabone melakukan mogok massal sehingga Gorontalo menjadi kota mati. Jepang memfitnah dan menangkap Wartabone 30 Des ‘43 dan dibawa ke Manado. Di sini, Wartabone mengalami berbagai siksaan. Wartabone selama sehari semalam ditanam seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala di pantai. Kepala Wartabone dimainkan ombak dan butir-butir pasir, itu tidak membuatnya menyerah ataupun kompromi pada kehendak Jepang. Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945.
Setelah menyerah kepada Sekutu, Jepang masih tetap menghormati Nani Wartabone sebagai pemimpin rakyat Gorontalo. Ini terbukti dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Wartabone pada tanggal 16 Agustus 1945. Sejak hari itu Sang Saka Merah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo setelah diturunkan Jepang sejak 6 Juni 1942. Setelah proklamasi di Jakarta, maka 1 September 1945, pemerintah pusat menghargai Wartabone sebagai pemimpin rakyat yang sah wilayah Gorontalo.
INSPIRASI: Wartabone tidak hanya memprolamasikan dan membentuk lembaga, tetapi perjuang habis-habisan mempertahankannya. Memulai dan menjadi yang pertama adalah penting, tetapi terus bertahan dan berjuang adalah jauh lebih penting lagi. Karena itu layak, jika rakyat, pemerintah jepang dan pemerintah RI pusat semua menghargai kepemimpinan Wartabone.
Pemimpin diuji dan dilahirkan di dalam penderitaan. Sebut saja Soekarno Hatta, Mahatma Gandi di India, Jose Rizal di Filipina, Xanana Gumao dari Timor Leste, demikian juga para Nabi-nabi, mereka hampir semua mengalami penderitaan dan aniaya.
Jika Wartabone, menerima bujukan Jepang maka ia tidak lebih akan menjadi ‘centeng’ atau ‘preman’ kepentingan Jepang, menjaga keamanan. Wartabone memilih membela kepentingan rakyat. Alangkah sedihnya, jika oknum polisi, tentara, jaksa atau aparat lainnya hanya menjadi ‘centeng’ preman bagi yang membayarnya. Rakyat berdoa, dan saya menginspirasi para aparat, untuk menjadi Wartanone abad ini, menjadi pahlawan bagi rakyat !
Bagi anda pribadi, inspirasi Wartabone adalah PENDERITAAN, melahirkan kemuliaan, jika kita mau menghadapi penderitaan dengan komitmen, dengan ketabahan. Penderitaan menghasilkan karakter, dna karakter menjadikan hidup seseorang mulia, dihormati dan dicintai banyak orang.
Jika anda saat ini mengalami penderitaan, percayalah, TUHAN itu ada dan DIA itu adil. Ketidak adilan, sering membuat orang bertanya-tanya ‘dimana Tuhan?’ atau bahkan ‘Apakah Tuhan itu ada?’ Namun orang Jawa punya nasehat ; “Gusti ora sare” “Tuhan tidak tidur” Kebenaran akan bersinar seperti fajar ! Hadapi penderitaan dengan tetap hidup dengan benar, pembelaan datang pada waktunya ! Kemalangan orang benar banyak, tetapi akhir hidupnya mulia ! Inilah Inspirasi kepemimpinan dari kisah Watabone, dari Gorontalo. Salam Dahsyat, Luar Biasa !
Inspirasi Gorontalo: Wartabone 3: Pejuang Sejati yang SEDERHANA.
Tahukan anda, bahwa ada wilayah di Indonesia yang sudah merdeka 23 Januari 1942, melakukan Upacara Proklamasi di lapangan dengan ribuan orang dan membentuk pemerintahan? Itulah Gorontalo, Sulawesi, dimana saya berada untuk menggali INSPIRASI dari tokoh sentralnya, Nani Wartabone, Pahlawan Nasioanal sang PROKLAMATOR kemerdekaan Gorontalo !
Ketika Jepang kalah dan Belanda datang lagi, dengan membonceng Sekutu, maka pada 30 November 1945 Wartabone diundang berunding di sebuah kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, tetapi Belanda menawannya dan langsung dibawa ke hadapan Pengadilan Militer Belanda di Manado. Wartabone dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun dengan tuduhan makar pada tanggal 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang kemudian dipindahkah ke penjara Cipinang, Desember 1946. Hanya sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di sini ia kembali mengalami siksaan kejam dari Belanda. Dari Morotai, ia dikembalikan lagi ke Cipinang, sampai dibebaskan  23 Januari 1949, setelah pengakuan kedaulatan Indonesia.
2 Februari 1950, Wartabone kembali ke Gorontalo, negeri yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat dan Dewan Nasional yang berjuang bersamanya menyambut kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru dan tangis. Kapal Bateku yang membawa Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Wartabone kemudian ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme. Rakyat kemudian membaiatnya untuk menjadi kepala pemerintahan kembali, hingga 1953.
Kisah menariknya, selepas penyambutan luar biasa dan jabatan puncak itu, Wartabone memilih tinggal di desanya, Suwawa. Di sini ia kembali turun ke sawah dan ladang dan memelihara ternak layaknya petani biasa yang sederhana di daerah terpencil Gorontalo.
INSPIRASI: Ini bukan legenda, ini kisah nyata, pengabdian seorang pemimpin, dan kesederhanaan setelah ia sampai ke puncak. Bukankan ini yang kita rindukan bersama sebagai bangsa Indonesia hari-hari ini? Ditengah maraknya budaya korupsi, pejabat yang menjadi garong dan rampok kekayaan negara, sementara rakyat menderita. Kita merindukan, adanya pahlawan bangsa zaman ini, pejabat yang sederhana, yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat, yang akan di hormati dan dipermuliakan turun temurun.
Jika anda mahasiswa luar biasa atau pejabat negara esselon muda dengan otak brilliant dan memiliki karier cemerlang, saya menggugah hati nurani anda yang paling dalam, beranikah anda menerima tantangan abad ini? Menjadi pahlawan bagi bangsa ini ? Kita sama-sama menaruh harapan dan doa-doa kita, semoga lahir Wartabone baru dari KPK, Kepolisian, Kejaksaan ataupun instansi lainnya.
Beranikah anda berjuang melawan arus ketidak adilan, arus kebohongan dan korupsi itu wajar? Beranikah anda berdiri tegak dengan hidup benar? Menjadi manusia yang mulia dan dipermuliakan karena kebenaran?
Saya terinspirasi dengan tokoh-tokoh bangsa di muka bumi ini, yang tadinya miskin, rayat jelata, bukan siapa-siapa, tetapi karena kebenaran, hidupnya yang lurus, maka Tuhan mengangkat tinggi-tinngi dalam kemuliaan. Ada Yusuf di Mesir, ada Sadrah Mesah Abednego dan daniel di Babel, ada Wartabone di Gorontalo, ada saya dan saya harap juga dengan hidup anda ! Inilah Inspirasi kepemimpinan dari kisah Watabone, dari Gorontalo. Salam Dahsyat, Luar Biasa !
Inspirasi Gorontalo: Wartabone 4: Pejuang Sejati TIADA HENTI.
Saya berada Gorontalo, Sulawesi, menggali kisah inspiratif dari putra daerah dan saya menemukan mutiara kehidupan dari Nani Wartanone, Pahlawan Nasional, yang telah saya sampaikan dalam episode 1,2,3 dan ternyata belum berakhir.
Ketenangan hidup Nani Wartabone sebagai petani yang sederhana kembali terusik, ketika PRRI/PERMESTA mengambil alih kekuasaan di Gorontalo setelah Letkol Ventje Sumual memproklamasikan pemerintahan PRRI/ PERMESTA di Manado 1957. Jiwa patriotisme Wartabone bergejolak dan Ia, saat tu berusia 50 tahun memimpin rakyat Gorontalo. Saat bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari “Pasukan Rimba”. Ramadhan 1958 datang bantuan dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipimpin oleh Kapten Acub Zaenal dan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipimpin oleh Kapten Piola Isa dan berhasil merebut kembali Gorontalo.
Setelah PRRI/PERMESTA, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan-jabatan penting; Residen Sulawesi Utara di Gorontalo, langgota DPRGR. Setelah peristiwa G30S tahun 1965, Nani Wartabone saat itu 58th kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo menumpas komunisme. Baginya, perjuangan tiada akhir, usia tua tidak menyurutkan jiwa perjuangannya.
Nani Wartabone yang pernah menjadi anggota MPRS Rl, anggota Dewan Perancang Nasional dan anggota DPA itu, akhirnya meninggal 3 Januari 1986, di usia 79 tahun, sebagai seorang petani sederhana di desa terpencil, Suwawa, Gorontalo.
INSPIRASI: KESEDERHANAAN, itulah inspirasi hidup Wartabone. KESEDERHANAAN, sebuah karakter bangsa yang perlu kita renungkan kembali. Saat ini, bukan pejabat dan pahlawan sekaliber Wartabone, tetapi hanya pegawai negri eselon 3, usia belum 30 tahun, memiliki rekening dan asset lebih 100 milyar.
Saat ini semua diukur dengan materi. Apakah dia sukses, berhasil, mulia, semua diukur dengan materi. Orang tidak peduli bagaimana memperoleh itu semua. Halal dan haram sudah menjadi abu-abu. Dosa dan tidak, bukan pertimbangan lagi yang dirisaukan.
SEDERHANA, bukan berarti tidak berprestasi. Anda masih ingat pengusaha sukses dan kaya raya Bob Sadino? Anda mengenal Bung Hatta? Mereka orang sukses yang hidup dan berpenampilan sederhana. Orang ini ada dalam daftar 100 orang terkaya di bumi, walau tidak sekaya Bill Gate, tetapi menyumbang berbagai lembaga sosial dan amal berlipat kali lebih dari Bill Gate, namanya Warren Buffet, ia hidup sangat sederhana.  Kemuliaan seorang manusia, bukan diukur dari penampilannya, tetapi apakah hidupnya berdampak bagi orang lain.
Inspirasi kedua kali ini adalah TIADA HENTI BERJUANG ! USIA BUKAN HALANGAN untuk terus berjuang! Lupakan saja usia anda, dan lakukan apa yang harus dilakukan. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Sesuatu yang baik, jika anda tidak selesai, anak atau anak buah anda akan mewarisinya. Sesuatu yang tidak baik, akan berakhir ketika anda mati. Jadi, mulai saja melakukan hal yang baik tanpa merisaukan umur anda ! Inilah Inspirasi kepemimpinan dari kisah Watabone, dari Gorontalo. Salam Dahsyat, Luar Biasa !

Rabu, 14 Maret 2012

Semarang; Raden Saleh, NH Dini, Dr. Kariadi


 Semarang 01: dr. Kariadi: Pengabdian.

Abad ke-15 M dari Kerajaan Demak, dikirim  Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), untuk menyebarkan agama Islam di perbukitan Pragota. Beliau menjumpai banyak pohon Asem Arang, sehingga memberikan gelar daerah itu menjadi Semarang. Sebagai pendiri desa, kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I.
Putranya yang bergelar Pandan Arang II atau  Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran II. Membawa kemajuan Semarang dan 2 Mei 1547 bertepatan dengan maulid Nabi, disahkan oleh Sultan Hadiwijaya sbg Kabupaten. Tanggal 2 Mei kemudian ditetapkan sebagai hari jadi kota Semarang.
Kalau di Surabaya ada TUGU PAHLAWAN mengenang Peristiwa 10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda, maka di Semarang ada TUGU MUDA, Untuk memperingati Pertempuran 5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi, yang terjadi 15 Okt 1945.  Tugu Muda ini dibangun pada tanggal 10 November 1950.
Hal pertama yang menyulut kemarahan para pemuda Indonesia adalah ketika pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari Cepiring ke Bulu, dan di tengah jalan mereka kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai, dibawah pimpinan Jendral Nakamura, di Jatingaleh.
Hal Kedua, matinya Dr.Kariadi. 14 Oktober 1945, pasukan Jepang melucuti anggota polisi penjaga sumber air minum satu-satunya bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. Tersiar kabar tentara Jepang meracuni reservoir itu.
Rakyat pun menjadi gelisah. Sebagai kepala RS Purusara, Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut dan memutuskan harus segera pergi ke sana. Isteri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya, mengingat keadaan yang sangat genting. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang.
Ternyata dalam perjalanan, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat dan ditembak tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan. Sebagai penghormatan atas keberanian dan kepeduliannya pada warga Semarang, Nama dr. Kariadi diabadikan sebagai nama  rumah sakit yang dulu ia pernah kepalai, Rs Purusara, dan ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Kalau di Surabaya ada Bung Tomo, maka di Semarang ada dr. Kariadi.
Inspirasinya : Kisah pengabdian, tidak pernah berhenti bersama matinya si-pelaku, sebaliknya justru kisah dan nilai-nilainya terus hidup dan diwariskan. Orang kaya tanpa kebaikan, mati dan dilupakan, orang kaya ataupun miskin yang berbuat baik, mati dan namanya tetap dikenal, perbuatan baiknya sebagai teladannya dikisahkan turun temurun.
Ada kisah di Alkitab; orang kaya mati masuk neraka, namanya tidak ditulis siapa. Tetapi ada orang miskin mati masuk surga, namanya ditulis Lazarus dan ia dipangku oleh orang kaya yang masuk sorga, dan namanya ditulis, Abraham, orang kaya yang rajin berbuat baik. Pengabdian, kebaikan, itu kekal. Pengabdian, itulah harta abadi, diakui sorga dan dunia, dihargai Tuhan dan manusia. Karena manusia diciptakan untuk mewakili dan memancarkan kemuliaan Tuhan, dengan berbuat kebajikan. Mari dapatkan kemuliaan hidup sebagai manusia, dengan semangat pengabdian. Salam Dahsyat, Luar Biasa !!
Semarang 02 : Raden Saleh
Anak Mas Adjeng Zarip Hoesen asal Terboyo Semarang, berhasil menjadi pelukis dunia, pelukis Kerajaan belanda, dialah Raden Saleh. Indonesia boleh berbangga melihat karya anak bangsa menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, dan museum bergengsi Louvre, Paris. Ia banyak mendapat penghargaan dari Kerajaan Belanda, keraton Solo dan Pemerintah indonesia.
Salah satu lukisannya yang berukuran besar, Berburu Rusa, terjual di Balai Lelang Christie's Singapura seharga Rp 5,5 miliar. Ia menjadi kaya raya, saat kembali ke Indonesia dari Eropa, di Batavia ia tinggal di sekitar Cikini. Gedungnya dibangun sendiri gaya seorang pelukis. Sebagai tanda cinta terhadap bangsanya, ia menyerahkan sebagian dari halamannya yang sangat luas pada pengurus kebun binatang. Kini kebun binatang itu menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara rumahnya menjadi Rumah Sakit Cikini, Jakarta. Wow besar sekali bukan ?
Ada sekelumit kisah, yang saya angkat sebagai sumber INSPIRASI: Ia belajar melukis potret dari Cornelis Kruseman dan tema pemandangan dari Andries Schelfhout, serta tokoh romantisme Ferdinand Victor Eugene Delacroix, pelukis Perancis legendaris.
Semasa belajar di Belanda, ia sering dihina oleh pelukis-pelukis Belanda, karena ia seorang Hindia sebutan Indonesia saat itu. Para pelukis muda Belanda itu mulai melukis bunga. Lukisan bunga yang sangat mirip aslinya itu pun diperlihatkan ke Raden Saleh. Terbukti, beberapa kumbang serta kupu-kupu terkecoh untuk hinggap di atasnya. Seketika keluar berbagai kalimat ejekan dan cemooh. Merasa panas dan terhina, diam-diam Raden saleh menyingkir.
Ketakmunculannya selama berhari-hari membuat teman-temannya cemas. Muncul praduga, pelukis Indonesia itu berbuat nekad karena putus asa. Segera mereka ke rumahnya dan pintu rumahnya terkunci dari dalam. Pintu pun dibuka paksa dengan didobrak. Tiba-tiba mereka saling jerit. "Mayat Raden Saleh" terkapar di lantai berlumuran darah. Dalam suasana panik Raden Saleh muncul dari balik pintu lain. "Lukisan kalian hanya mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya bisa menipu manusia", ujarnya tersenyum. Para pelukis muda Belanda itu pun kemudian pergi. Itulah salah satu pengalaman menarik Raden Saleh sebagai cermin kemampuannya.
Inspirasinya adalah: Ejekan dan cemooh, balaslah dengan karya, gunakan sebagai motivasi untuk berjuang dengan keras, membuat karya terbaik. Janganlah cemooh dan ejekan membuat anda berlarut dalam kesedihan, penolakan, sakit hati dan dendam. Memang akan selalu ada salah satu sisi hidup kita yang bisa dijadikan ledekan. Entah bentuk fisik, asal kota atau suku kita, pendidikan, kegagalan yang pernah kita buat atau kemiskinan keluarga kita.  Hal-hal ini sering menjadi batasan dalam pikiran kita, dan tidak berani melangkah, bahkan punya cita-cita saja tidak berani.
Mereka yang sukses, telah menembus batas-batas pikiran tersebut, belajar dan berkarya, tanpa menghiraukan cemoohan karena ras, suku, warna kulit, bentuk fisik, sebaliknya dengan semangat membara untuk membuktikan kemampuan, semangat membara karena dicemooh, telah membawa Raden Saleh dan juga banyak orang lain meraih sukses, termasuk saya dan saya yakin juga dengan Anda ! Karena itu apapun komentar lingkungan anda, terus SEMANGAT mengejar mimpi anda. Salam Dahsyat, Luar Biasa !!
Semarang 03 : NH Dini: Rajin & Gigih sejak Remaja
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin (lahir di Semarang, 29 Februari 1936;  atau lebih dikenal dengan nama NH Dini adalah sastrawan, novelis, dan feminis Indonesia.
Pendiri Pondok Baca NH Dini di Sekayu, Semarang ini, telah menulis lebih dari 20 buku, belum termasuk kumpulan cerpen atau cerita kenangan. Kebanyakan novel-novelnya itu bercerita tentang wanita, karena itu Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand ini  digelari pengarang sastra feminis, penjuang hak-hak wanita lewat tulisannya. Karyanya banyak dibaca kalangan cendekiawan dan jadi bahan pembicaraan sebagai karya sastra.
Beberapa karya NH Dini, yang terkenal; Dua Dunia (1956).  Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998). Dalam karyanya yang terbaru berjudul Dari Parangakik ke Kamboja (2003), ia mengangkat kisah tentang bagaimana perilaku seorang suami terhadap isterinya.
NH Dini mengaku mulai tertarik menulis sejak kelas tiga SD. Buku-buku pelajarannya penuh dengan tulisan yang merupakan ungkapan perasaannya sendiri.  Dini ditinggal wafat ayahnya saat masih SMP, sedangkan ibunya, pembuat batik tanpa penghasilan tetap. Karena itu, ia jadi suka melamun. Bakatnya menulis  terasah sejak di SMP, ia mengisi Majalah Dinding dengan puisi dan cerita pendek, dan membacakannya sendiri di RRI Semarang ketika masih SMP.
Sebagai siswa SMA jurusan sastra di Semarang. Ia mengirimkan cerita-cerita pendeknya ke berbagai majalah dan bergabung dalam kelompok sandiwara radio dan sesekali ia menulis naskah sendiri. Dini memenangi lomba penulisan naskah sandiwara radio se-Jawa Tengah. Ia menjadi redaksi majalah remaja Gelora Muda.
Dini dipersunting Yves Coffin, Konsul Prancis di Kobe, Jepang, 1960. Sebagai konsekuensi menikah dengan seorang diplomat, Dini harus mengikuti ke mana suaminya ditugaskan. Ia diboyong ke Jepang 1960, pindah ke Pnom Penh, Kamboja, 1963 ke Prancis 1966, ke Manila, 1967 dan 1976, ia pindah ke Detroit, AS. Dini berpisah dengan suaminya, Yves Coffin 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta.
Perceraian tidak membuatnya kendur, sebaliknya ia mengisi kesendiriannya, ia bergiat menulis. Menjadi pengarang selama hampir 60 tahun tidaklah mudah. Baru dua tahun terakhir ini, ia menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-hari. Walau ia hidup berkekurangan, ia murah hati. 10.000 dollar AS dari mantan suaminya,   digunakannya untuk membuat Pondok Baca anak-anak di Sekayu, Semarang.
Inspirasinya : Kisah hidupnya yang panjang, penuh lika-liku, menjadi sumber utama inspirasi dan wawasannya, selain dari Ibunya yang suka bercerita saat ia masih usia dini. Sekarang ia sudah berusia 75 tahun, masih produktif, terus berjuang bagi hak-hak wanita lewat tulisan. Dini tidak pernah pensiun, ia adalah salah satu teladan untuk orang yang berjuang, rajin berlatih dan gigih sejak remaja dan mengabdi di usia tua. Walau hidupnya penuh gejolak dan masalah, ia ingin menutup bab terakhir dari buku kehidupannya dengan pengabdian. Empat ribu buku dari tujuh ribu buku perpustakaannya, ia hibahkan ke Rotary Club Semarang, tiga ribu lainnya ia bawa ke Rumah Baca di Graha Wredha Mulya, Sleman, Jogyakarta, dimana ia sekarang tinggal dan melayani rumah baca. Ayo yang masih remaja, isi kegiatan yang positif dan terus berlatih. Yang sudah tua, selesaikan hidup anda dengan pengabdian. Wow ... dahsyat, Luar Biasa !!

Kamis, 29 Desember 2011

Hati untuk Mentawai


 Mentawai. Kepulauan Mentawai di sebelah Kota Padang, Sumatra barat ini terdiri dari beberapa pulau, dengan pulau utama Sikakap, Zipora dan Siberut. Sejak th 1998 hingga sekarang, hampir tiap tahun sekali saya mengunjungi salah satu pulau di Mentawai yang dahulu harus naik kapal, sore dari Padang dan dini hari tiba di Mentawai, namun sekarang ada pesawat perintisan NBA, seminggu dua kali, saat ini, senin dan kamis, pesawat NBA, kapastitas 16 orang.


Sejak kunjungan pertama, saya jatuh cinta, karena kepulauan ini boleh dikatakan telah lama, 'diabaikan' dan hanya dikeruk kekayaan alamnya, ditebang kayunya dan 'dibiarkan' miskin. Beberapa tahun lalu saat saya kesana, belum ada listrik, kecuali kota kabupaten, di Zipora tidak ada jalan yg dikeraskan, semua jalan tanah, walau alam pantai dan ombaknya, menarik para pecinta surfing / selancar dari berbagai negara.

Maka sejak 1998 tersebut, saya membuka sekolah TK, Taman Kanak-Kanak, namanya TK Pemulihan dan saat ini 2011 akhir, saat saya istri dan anak-anak saya ajak liburan natal sekeluarga, liburan unik, misi ke pedalaman, sudah ada 14 cabang TK Pemulihan di berbagai kota dan pulau di Mentawai. Kami juga bekerja sama dengan PESAT yang lebih dulu dari kami (Ypi = Yayasan Pulihkan Indonesia) memasuki kawasan Mentawai dan telah memiliki 18 cabang TK.
Kami menguatkan komitmen kami untuk terus membuka TK Pemulihan di setiap desa, kelurahan, kecamatan, saling mengisi dengan PESAT dengan target 60 cabang. Kami akan mendukung dengan kurikulum TK terbaik dari Happy Holy Kids, TK di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang telah memiliki cabang maupun franchise lebih dari 60 cabang dan pengalaman mengelola TK lebih 15 tahun. Dibutuhkan HATI untuk Mentawai, bagi pendidikan usia dini, membangun generasi baru masyarakat Mentawai. Dibutuhkan korban, dana, tenaga dan semua bisa jika ada HATI. Uluran tangan dari para sponsor, doa restu dari tokoh agama, dukungan dari Yayasan lain seperti Patmos, maupun Pemda setempat, Diknas dengan dana BOS, membuat kami merasa tidak sendirian.

Saat ini Mentawai terlihat mulai berbenah, ada resort dan hotel yang menarik di dekat Tuapejat, jalan mulai dilakukan pengerasan, jalur listrik memasuki desa-desa, dan bagi anda yang menyukai 'tantangan' maka 'menaklukkan' Mentawai adalah liburan unik tersendiri.  Des 2011 ini kami baru saja menikmati hal ini, naik pesawat kecil, dilanjutkan jalan kaki, menyebrang sungai, sedalam pinggang dan disebrang sungai, lanjutkan dengan  'offroad' dengan ojek sepeda motor, menyusuri bibir pantai, bahkan sesekali kami harus turun, menyebrang selokan, atau muara, merupakan kesan tersendiri.
Menyebrang selat antar pulau dengan speedboad, dihadang ujan badai sehingga harus menepi di hutan bakau, melanjutkan sambil dag dig dug, melihat ombak yang begitu besar, membuat wahana jetcoaster seperti tidak ada artinya dibanding 'jetcoaster' alam liar, tanpa pelampung, hanya speedboat kayu yang ditempel motor mesin, mengarungi ombak dan badai. Doa doa dan doa, sepertinya perjalanan seperti ini memmbuat kita dekat dengan Tuhan dan praktek iman, bergumul apa arti hidup dan betapa kecilnya manusia dibanding besarnya alam dan ganasnya ombak laut.

Hari berikutnya cuaca cerah, dan mencoba tantangan baru, naik long boat, sampan kecil yang panjang, yang dibuat dari kayu utuh, pohon besar yang dipahat menjadi sampan dengan tanpa sambungan. Walau ombak tenang, namun karena sampannya begitu kecil, rampingm  tanpa 'sayap' penyeimbang, maka rasa-rasanya seperti akan terguling saja. Syarat utama naik ini, jangan takut, jangan bergerak, duduk manis diam saja, Karena jika takut dan bergerak, hilang keseimbangan dan fatal.  Diujung selat yang lain, resort mewah ternyata ada di Mentawai, di dekat kota Tuapejat, pulau Zipora. Tarif turis lokal 500-600 ribu/orang/hari termasuk 3 kali makan.

Di Mentawai ini anda bs berenag di laut yang airnya jernih bagaikan aqua ! Makan ikan bakar, minum kelapa muda, udang lobster dan kepiting, semuanya fresh, dan rasanya dijamin puas. Ayo siapa mau ke Mentawai, entah berlibur atau sekedar menikmati tantangan lburan menaklukan alam dan semoga juga ikut terbuka hatinya seperti yang kami alami, dan ikut berdoa buat Mentawai, memberkati Mentawai bahkan berkorban, berbuat sesuatu buat Mentawai.

Hidup hanya satu kali, kenapa kita tidak membuatnya berarti dengan hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi berarti bagi orang lain, berdampak bagi orang lain, seperti kepada Mentawai. Salam dahsyat, Luar Biasa.

Selasa, 13 Desember 2011

Inspirasi Makasar: Sultan Hasanuddin, Habibie, Yusuf Kalla

 Makasar 01: Sultan Hasanuddin: Keberanian ! 

Makasar, wisata kuliner yang terkenal adalah ikan bakar dengan bumbu yang khas, dan yang menarik, ada banyak jenis ikan yang tidak di jumpai di kota-kota lain di Indonesia, seperti ikan salah mata, kudu2, sunu, dll. Selain itu, masih ada wisata sejarah; Benteng Ujung Pandang nama asilnya Benteng Panyyua, peninggalan markas Pasukan Katak Kerajaan Gowa-Tallo, yang dibangun tahun 2545 oleh Raja Gowa ke-9: I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna dan direnovasi oleh Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Benteng ini, menjadi saksi sejarah kisah heroik perlawanan terhadap VOC.
Perlawanan terbesar dilakukan oleh Sultan Hasanuddin. Tahun 1655 dia diangkat menjadi Sultan ke 16 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun.  Lima tahun kemudian, Perang VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai, Belanda dipimpin oleh Cornelis Speelman dibantu oleh Aru Palaka, penguasa Kerajaan Bone.
Hasanuddin menyerang dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar. Pertempuran terus berlangsung, Kompeni menambah kekuatan pasukannya hingga pada akhirnya Gowa terdesak, sehingga pada tanggal 18 November 1667 bersedia mengadakan Perdamaian Bungaya.
Gowa merasa dirugikan, karena itu Sultan Hasanuddin, 1668 kembali mengadakan perlawanan. Akhirnya pihak Kompeni minta bantuan tentara ke Batavia, sehingga Kompeni berhasil menerobos benteng terkuat dan terakhir Gowa yaitu Benteng Sombaopu pada tanggal 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari tahta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Ia dimakamkan di Katangka, Makassar.
Diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, dan namanya diabadikan menjadi nama airport di Makasar. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan /Jago dari Benua Timur.
Inspirasi kisah ini? Anda ingin sukses? Anda harus BERANI ! Apa yang anda takutkan? Takut gagal? Katakan pada diri anda sendiri: “Gagal itu biasa, semua orang sukses pernah gagal” Anda takut kalah? Katakan pada diri anda sendiri; “Pahlawan nasional juga banyak yang akhirnya kalah, tetapi terpenting dan termulia adalah usaha, proses menjalani perjuangan dengan cara mulia dan benar, hasil Tuhan yang atur”
Anda takut ditolak? Katakan pada diri anda sendiri: “Nabi-nabi dan orang-orang benar yang nyaris sempurnapun mengalami penolakan, karena dunia memang tidak homogen dan apapun sikap pendapat saya selalu ada yang menolak”. Anda takut mengecewakan orang lain? Anda memang tidak mungkin memuaskan semua pihak.
Kita memang harus hati-hati, tetapi bukannya ketakutan bersikap, ketakutan untuk melangkah. Sebaliknya patahkan setiap ketakutan dan halangan dalam pikiran anda, dan dengan BERANI, buatlah keputusan, jalani kehidupan dan hadapi tantangan dengan BERANI. Raih sukses yang lebih tinggi. Salam Dahsyat, Luar Biasa ! 
Makasar 02: Yusuf Kalla: Gigih, Pantang Mundur !
 Kota Makassar, hingga 1999 dikenal dengan Ujungpandang. Di kota ini ada suku Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, Buton, Jawa, dan Tionghoa. Wilayah ini memiliki tujuan wisata alam dan budaya yang indah seperti Tana Toraja dan Maros, selain dikenal dengan wisata kuliner, karena banyaknya makanan khas Makassar seperti; Coto Makassar, Roti Maros, Jalangkote, Kue Tori, Palubutung, Pisang Ijo, Sop Saudara dan Sop Konro. Saat ini, tujuan wisata bertambah, TRANS Studio.
Dari kota inilah kisah inspiratif tokoh kita kali ini, Jusuf Kalla saya sampaikan. Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, disebut Jusuf Kalla, bahkan kadang disingkat JK, lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan pada tanggal 15 Mei 1942 sebagai anak ke-2 dari 17 bersaudara dari pasangan Haji Kalla dan Athirah, pengusaha keturunan Bugis yang memiliki bendera usaha Kalla Group. Di Makassar, Jusuf Kalla dikenal akrab disapa oleh masyarakat dengan panggilan Daeng Ucu.
Dalam politik, prestasi menonjolnya sebagai Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono, keduanya menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI yang pertama kali dipilih secara langsung oleh rakyat.
Apa yang unik dan menarik dari tokoh energik satu ini? Kegigihannya. Sikap dan kiprahnya justru menarik setelah turun dari Politik. Melalui Munas Palang Merah Indonesia ke XIX, Jusuf Kalla terpilih menjadi ketua umum Palang Merah Indonesia periode 2009-2014. Skarang berita kegiatan beliau di Palang Merah intens mengisi media.
Belum lama ini, ia ngotot memperjuangkan Komodo dalam kontes 7 kejabaian dunia versi ‘New 7 Wonders’, yang walaupun Pemerintah dalam hal ini Menteri Pariwisata resmi mundur dari kontes. Keributanpun terjadi di media dengan saling tuding mengenai kredibilitas ‘New 7 Wonders’ini. Namun Yusuf Kalla tetap kekeh, gigih, pantang mundur dan maju dengan bendera Yayasan atau Panitia mewakili Indonesia dan hasilnya kita semua tahu, Komodo menang.
Kegigihan ini pula rupanya yang membuat Jusuf Kalla sukses sebagai entrepreneur.  Tahun 1968, Jusuf Kalla menjadi CEO dari NV Hadji Kalla. Di bawah kepemimpinannya yang ulet, gigih, pantang menyerah, NV Hadji Kalla berkembang dari sekedar bisnis ekspor-impor, meluas ke bidang-bidang perhotelan, konstruksi, pejualan kendaraan, perkapalan, real estate, transportasi, peternakan udang, kelapa sawit, dan telekomunikasi.
Inspirasi kisah ini, untuk sukses kita mesti meneladani sikap menonjol tokoh kita satu ini, gigih, kekeh dengan apa yang diyakinininya. Gonjang ganjing, gossip tidak membuatnya mundur, justru semakin ngotot berjuang, pantang mundur. Masalah membuat semakin bergairah, pantang menyerah.  Andapun pasti banyak gossip, masalah, tantangan, cemoohan yang menakutkan bagi para pencundang, dihindari oleh para pengecut, tetapi jika anda seorang pemenang, anda akan pantang mundur, dengan semangat baja, terus mengejar impian, maka sukses menanti anda.
Bagi pemenang, masalah itu sarapan bagi. Fitnah cemooh itu camilan rutin. Tantangan gossip, itu makan siang, maksudnya itu hal biasa yang terjadi setiap hari. Jika anda fokus pada hal tersebut, anda tidak pernah melangkah maju. Sebaliknya, lebih baik anda fokus pada tujuan anda dan terus melangkah maju. Raih sukses yang lebih tinggi. Salam Dahsyat, Luar Biasa !!



Makasar 03: Bacharuddin Jusuf Habibie
Habibie, lahir di Pare-Pare 25 Juni 1936, 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/ Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden. Ketokohannya di politik, melonjak saat beliau mendirikan ICMI.
Sosok Manusia Multidimensional, Mantan Presiden RI Ketiga, disebut sebagai Si-Jenius yang memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16. Kuliah di ITB hanya 1 th, lalu 10 th kuliah di Jerman meraih gelar doktor Summa Cum laude bidang konstruksi pesawat terbang. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman.
Pesawat “Tetuko” CN-235 kerjasana CASA Spanyol dan IPTN dibeli Thailand. 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang generasi selanjutnya: N-250 “Gatotkoco” kelas commuter, asli buatan dan desain putra-putra terbaik Indonesia melalui IPTN. N-250 untuk pesawat sejenis di kelasnya, adalah pesawat terbang yang paling mutakhir di dunia, berkapasitas 50-60 pemumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire.
Karya ini mendapat penghargaan Theodhore van Karman Award, yang dianugerahkan oleh International Council for Aeronautical Sciences, pada pertemuan tahunan dan konggres ke-18 di Beijing, China tahun 1992. Order dari luar negripun mengalir. Hanya sayang, perusahaan domestik justru tidak nasionalis dan memilih membeli pesawat bekas dari luar negri.
INSPIRASI: Apa yang menarik dari sosok ini sehingga disebut multidimensional? Setelah berbicara kehebatan ke-jeniusannya di teknologi, inspirasi mengelitiknya justru datang dari sisi keluarga. Beliau juga suami yang hebat. Dia tidak kehilangan romantismenya ketika harus bergelut dengan teknologi dan politik.
Setelah lengser, Habibie bolak-balik ke Jerman. Kenapa? Demi istrinya, dr Hasri Ainun Habibie, sakit dirawat di German. Habibie ingin untuk selalu mendampingi istri, dan harapnya istri juga akan selalu bisa mendampinginya. Kenapa bisa begitu romantis? Rupaya istrinya adalah pendamping hidup sekaligus teman suka dan duka yang sudah dikenal anak-anak umur 14 tahun! Kisah cinta mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie dan istrinya, Hasri Ainun Habibie (almarhumah), akan difilmkan. Ceritanya diambil dari buku yang ditulis sendiri oleh Habibie, yang telah terjual hampir 60.000 copy dalam delapan bulan.
”Saya menulis buku ini bukan untuk menjadi buku best seller. Buku ini saya tulis supaya saya tidak tenggelam, proses mengembalikan saya pada kehidupan yang normal, setelah kematian istri saya.” kata Habibie pada acara penandatanganan kerja sama dengan produser Film Manoj Punjabi dari MD Entertainment.
Supaya tidak tenggelam dalam teknologi dan menjadi manusia kaku tanpa perasaan, Habibie membina romantisme pernikahannya. Supaya tidak tenggelam dalam kesedihan kehilangan pasangan romantismenya, Habibie mencurahkan isi hati dan pikiran dengan menulis. Nasehat dari team dokter German supaya tetap sehat jasmani rohani dan jiwani, tidak tenggelam dan terseret dalam salah satu bidang, dan kehilangan keseluruhan makna hidup manusia yang holistik. Tanpa banyak komentar, kisah ini secara keseluruhan telah menjadi inspirasi bagi kita, menjadi manusia multidimensi atau manusia seutuhnya, manusia holistik. Dahsyat !